Jumat, 21 November 2014

Puisi Bulan di Tengah Bulan Maret.



bulan di tengah bulan Maret

bagian satu; Ketika asap membumbung rendah
menutupi sebagian peradaban//menoleh ke atas
dan tertegun melihat tarian burung lemas, lalu pergi ...

bulan telah merekahkan
di titik dosa, di dasar tanah
di titik embun, di sudut bumi
cakrawala menyelimuti ...

titik dosa mengembun
di bulan purnama,
mengangkat arwah yang pulang
menuju teras ‘tuk berteduh

lihat sebentar telapak tangan “tanya”
bergaris, tak mengikuti inginmu
berhenti pada satu titik
yaitu dosa terselimuti bulan

tarian penari di atas panggung
membidik mata menembus bola
penabuh gendang menyeka keringat
kapan berlalu suara sendu
minta pulang tak kunjung pulang
gong ditabuh di luar singgasana
melihat nyali sang penari
menutup mata bukan tidur

cepat berayunnya ranting kering
di terpa semilir angin dan jatuh
bebas, menumpu di atas daun kering
guna menderingkan suara sunyi
akulah titik embun
sejernih titik dosa?
Jawabku “tidak tahu...!”

                                    (Pekanbaru, 15/03/08)






bulan di tengah bulan Maret

bagian dua; Ketika hujan menangis terus
mengairi sebagian peradaban//menoleh ke bawah
dan tertegun melihat tarian angsa lemas, lalu pergi ...

mendung belum lewat dari peradaban
seolah hujan menunggu giliran ‘tuk turun
memandikan pohon, rumah, jalan, sekolah
dan tempat tidurku pun ikut berenang
padahal bulan purnama telah lewat hari
masih bisa di hitung dengan jari, jam, saatku
melintas di atas jembatan itu ...

cahaya bulan bergelombang mengikuti
riak arus air yang mengalir pelan,
kini, arus air mengalir deras
berjuta kenangan t’lah hilang bersamanya

gelap, itu kurasakan
antara persimpangan sampai persimpangan
berlalu lalang lampu-lampu malam
salip kanan, salip kiri

tenda-tenda bertuliskan “...”
berjejer di kanan-kiri jalan
ada apa gerangan, kawan!

Peradaban berlalu ...
Jangan salahkan Tuhan.

                                    (Pekanbaru, 25/03/08)





 bulan di tengah bulan Maret

bagian tiga; Ketika air mulai mengisap tanah
t’lah tertutup harapan oleh keras tanah
menutupi sebagian peradaban//melihat fotomorgana
dan tertegun melihat tarian anak kecil bermandi ria ...

seorang ibu melihat...
seorang bapak melihat ...
seorang anak melihat ...
dan aku tertegun melihat ...
berpasang-pasang mata melihat ...

gelombang air membubarkan harapan
merajut kasih menepis angan, terapung
di sana, di sini, di mana-mana
kemana hendak di bawa, boleh bertanya?

Uraikan semua kata tanpa jawaban ...
“Jangan sedih wahai air...”
“Jangan tertawa wahai air ...”
“Jangan menangis wahai air ...”
“Jangan tidur wahai air ...”
“Jangan menyalahkan wahai air ...”
“Jangan menggerutu wahai air ...”

Uraikan jawaban tanpa pertanyaan ...
“Air gundul ...”
“Air lari ...”
“Air mengalir ...”
“Air berjalan ...”
“Air ... tapi ...”
“Air membawa ...”
“Air bercerita ...”
“Air berpuisi ...”
“Air bernyanyi ...”
“Air berdendang ...”
“Air membuat sebuah wacana, dimana peradaban membuat air yang akan mengalir tanpa penahan, dimana peradaban membuat air lebih cepat mengalir dari pada mencegah. Di mana peradaban membiarkan air terus bernyanyi ketika hujan turun begitu derasnya, ketika gelombang membawa kekuatan untuk menghancurkan penghalang tanpa kekuatan, yang telah hilang dibawa oleh peradaban itu sendiri”. (Pekanbaru, Maret 2008)

                                                           

Jumat, 14 November 2014

Sajak Halte...



Halte 1

Terukir tatapan kosong
Gerak tarian lalu lalang
Duduk bersandar
Teriring ucapan salam buat-Nya

Dunia sempit di bawah
Lempengan teduh besi tua
Yang telah digosok dan dicat
Tipis sedikit masih merekat
Sisa kerak hitam dari bumi

 

Halte 2

Aku kuasai seukuran badanku
Mendudukimu di antara belasan orang

Masih sempat ku melihat
Tatapan liar mencukur habis
Liku-liku dan melipat dalam benaknya,
            sehingga keringat yang menetes
            penuh tanya walau telah berulangkali
sepotong kain bermerek, menari-nari
ala Inul Daratista.
Aku tinggalkan beban
Saat kakiku melangkah

Halte 3

Kelak siapa yang akan duduk
Mengulang kembali memori

Meriasi perbincangan mengulur waktu
............................................terakhir?
           

Percakapan di Halte menyerah pada-Nya


Siapa namamu?
Mengapa ada disini?
Dimana Bapa-Ibumu?
Pulanglah...

“Neraka sudah dekat, Dik!
Cepatlah pulang walau sinar
matahari masih bertengger di atas
cucilah hati dan pikiranmu.”

“Akh...Biar¾Bang! surga di depan mata
silih berganti berputar di remang kota
Biarlah, air liurku masih bisa menahan.”

                                    (2003)

Perubahan itu indah.



Sekilas Dampak Perubahan
 Membaca Sebuah Cerita

M
embaca sebuah cerita yang mudah dimengerti, tentu akan memberikan manfaat yang sangat berarti bagi kita. Sebuah ide akan muncul dan memberikan sebuah karakter seseorang atau keindahan tersendiri bagi sang pembacanya. Adakalanya sebuah cerita itu tidak memberikan sebuah kenangan atau pijatan yang meresap kedalam ingatan pembaca, melainkan hanya sebagai wacana atau penglihatan yang normal seperti biasanya. Misalnya, hanya melihatnya dengan sekilas dan bukan meresapinya untuk dilakukan.
Tentunya, setiap manusia mempunyai daya pikir yang berbeda-beda. Namun, dengan perbedaan itu akan memberikan rasa pengertian atau rasa pemilihan. Belakangan ini, banyak cara pandang setiap manusia yang berbeda-beda, apalagi bila dilihat dari segi ekonomi dan kondisi penjumlahan tingkat kelahiran anak yang begitu drastisnya, sehingga kegunaan membaca sebuah cerita itu akan dilihat sebelah mata atau istilah kerennya “picing mata”.
Idealisnya seorang pembaca yang sejati akan menampakkan kesenjangan hidup yang baik, terpelajar dan bukan dipelajari oleh orang lain tanpa harus melihat latar belakang yang mengajarinya. Artinya, sebelum kita membaca diri orang yang mengajari diri kita tentunya langkah awal yang harus dilakukan adalah harus berani membaca apa yang harus kita lakukan sendiri. Dalam hal ini, daya ingat bisa difungsikan dan bukan digunakan dalam membaca sebuah cerita dalam kehidupan. Bertitik tolak dari semua hal yang kita alami, ada sebuah kenangan dalam membaca sebuah cerita itu, bukan melangkah untuk maju melainkan melangkah untuk lebih maju.
Dewasa ini, orang lebih menekankan pada kebiasaan yang tidak berguna dan tidak berfungsi. Arti berguna dalam hal ini adalah, ada manfaat yang akan digunakan oleh orang lain dan tidak difungsikan oleh orang lain atau istilah kerennya “dimanfaatin”. Ibaratnya sebuah barang yang akan digunakan, padahal pembaca itu adalah nyawa yang mempunyai daya pikir dan daya ingat serta jauh lebih istimewa dari ingatan yang lain.
Sebuah dilema dalam membaca cerita sudah dirasakan sejak kecil, ibarat bayi yang baru lahir dan langsung keluar melihat wajah dokter atau bidan akan melahap semuanya dengan tangisan dan omelan dari emosional sang bayi tersebut. Kini, di zaman yang penuh dengan tanda baca dan penuh dengan naskah-naskah dinding yang tertempel disetiap dinding-dinding kamar atau dinding-dinding luar gedung, seakan pembaca dihadapkan pada suatu tungku perapian yang panas dan membutuhkan setetes air di musim hujan. Artinya, tidak ada gunanya bila pembaca itu pintar, tetapi apabila didalam otaknya itu ada segumpal darah diantara darah yang tersuci, alhasil apa yang dibacanya akan sama dengan apa yang dipikirkannya.
Setiap tahun manusia tentu ada perubahan, dan perubahan itu akan membawanya pada jati diri yang berfungsi dan bukan berguna. Artinya berfungsi dalam hal ini adalah apabila dalam menghadapi perubahan tahun, manusia itu difungsikan dan bukan digunakan atau lebih kerennya “lebih baik bekerja daripada bekerja”. Nah, di sini akan terlihat bahwa manusia itu akan berfungsi. Tentunya dengan membaca sebuah cerita, baik itu di tulis berdasarkan waktu yang lama atau baru saja ditulis oleh seseorang yang bahkan tidak Anda kenal sekalipun. Karena dalam tulisan yang kita baca, kita tidak akan mengambil setetes darah yang ada di otaknya, melainkan akan menampung setetes air keringat yang selalu menemaninya dalam menulis sebuah cerita itu.
Untuk memperhalus kata-kata manusia, ada baiknya kalau diganti dengan orang. Tapi menurut saya, kata orang masih terlalu kasar untuk didengar atau dibaca. Baiklah kalau begitu kita ganti dengan kata “Anda” dan bukan saya, karena kalau menggunakan kata saya tentunya Anda sebagai pembaca akan merasa disingkirkan atau dilecehkan. Anda sebagai pembaca tentu akan merasa bosan, apabila hanya membaca sebuah cerita yang isinya itu-itu saja atau cerita yang diulang-ulang tetapi menggunakan latar dan tempat yang berbeda-beda. Anda sebagai pembaca tentu akan dipojokkan oleh kata-kata yang ditulis di kertas tersebut, padahal dengan membaca Anda merasa sebagai raja yang penuh dengan kejelian hidup ini.
Ada sebuah spanduk/baleho yang mengatakan hidup tanpa membaca adalah hidup yang kosong. Kata-kata hal inilah yang membuat hidup kita lebih kosong. Mengapa? Karena bila hidup kita kosong, tentu akan mati, dan supaya tidak mati kita harus makan dan bukannya membaca. Ya, apa yang saya tulis di atas adalah segelintir masalah yang terjadi sebelum Anda membaca, apalagi membaca sebuah cerita. Ada baiknya kita membaca sebuah cerita, sebelum mengulasnya.
Dulu, saat saya duduk di bangku Sekolah Dasar, guru bahasa Indonesia saya menyuruh membacakan sebuah cerita mengenai pengalaman saya saat masa liburan. Awalnya saya ragu untuk menceritakannya, namun untuk sebuah nilai, mau tidak mau saya harus maju dan membacakan sebuah cerita yang sudah saya tulis dari rumah. Pada saat saya membacakan sebuah cerita itu, teman-teman saya melihat dengan antusias dan mata mereka tertuju pada tubuh saya yang mungil, seolah-olah mereka akan melahap saya. Pada paragraf pertama, mereka terlihat serius sampai terus berlanjut hingga paragraf akhir. Saya tidak tahu, apakah mereka terharu atau tidak setelah saya membacakan cerita itu, namun dalam hati kecil saya mengatakan “pokoknya saya sudah membacakan cerita” masalah benar atau salahnya itu adalah masalah sang guru yang memberikan nilai. Apa jawaban sang guru bahasa Indonesia setelah saya membacakan cerita itu? jawabnya adalah bagus. Itu saja jawabannya, dan tidak mau mengomentarinya. Lalu, saya duduk kembali ke bangku dan merenung, untuk apa saya membacakan sebuah cerita kalau tidak ada nilai balik buat saya.
Nah, dari cerita itu pastilah Anda dapat mengambil sebuah kesimpulan. Sampai dimanakah nilai dari membaca sebuah cerita itu. Apakah membaca sebuah cerita itu hanya sekedar pemuas hati saja atau hanya karena keterpaksaan atau sebaliknya hanya untuk mengambil hati seseorang alias “angkat telur”. Kalau Anda berpikiran seperti itu, maka Andalah yang salah dalam berpikir dan berujung pada tindakan Anda yang salah pula.
Bagi orang awam, membaca sebuah cerita itu adalah pekerjaan yang sangat susah, apalagi didalam cerita itu ada kata-kata/istilah yang kurang dimengerti ujung pangkalnya. Sedangkan bagi orang yang berpendidikan saja, yang pandai baca-tulis pun akan merasa bodoh bila membaca sebuah cerita, karena orang itu tidak mengerti apa itu sebuah cerita. Padahal setiap harinya, banyak hal-hal yang positif dituangkan dalam bentuk tulisan, seperti di Majalah, Koran, dsbnya. Namun, orang itu tidak menyadarinya, kalau yang ditulis di media-media cetak itu adalah sebuah cerita dan cerita itu di tulis berdasarkan ketentuan yang sudah berlaku.
Kembali lagi ke cerita saya sewaktu SD. Menurut pembaca, yang salah saya sebagai murid atau gurunya sebagai pendidik. Dengan keras saya nyatakan yang salah adalah gurunya sendiri. Padahal guru itu adalah guru bahasa Indonesia, yang mempunyai pengalaman dan ilmu tentang bahasa apalagi mengenai sebuah cerita anak SD. Kok, cerita yang sepele saja tidak bisa mengembangkannya, apalagi kalau membaca sebuah cerita yang beratus-ratus halaman, otomatis buku cerita itu hanya sebagai landasan tidurnya saja. Nah, dari hal inilah yang menjadikan kita menjadi malas membaca sebuah cerita. Sosok sebagai guru bahasa Indonesia itu tidak tampak. Coba, Anda bayangkan kalau semua sekolah setiap siswanya disuruh membaca sebuah cerita oleh guru bahasa Indonesianya, dan setelah selesai naskahnya di kumpulkan tanpa dikoreksi atau dikomentari, mau dikemanakan ilmu tentang membaca sebuah cerita itu. Berarti kesimpulannya, tenaga pengajarnya kurang memahami mengenai sebuah cerita atau bagaimanakah sich! cara membaca sebuah cerita yang baik itu.
Bagaimanakah Sich! Cara mudah membaca sebuah cerita? Jawabannya Anda sendirilah yang akan menemukannya, dengan membaca cerita itu sendiri. Dalam hal ini, saya tidak akan menjelaskan panjang lebar mengenai langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan, karena penjelasan itu bisa Anda dapat di buku-buku yang berkenaan dengan membaca. Namun, dalam hal ini saya lebih mengarah kepada, apa sich! Yang harus kita lakukan bila membaca sebuah cerita. Apakah dengan membaca sebuah cerita, kita akan menjadi kaya dan disegani orang, atau dengan membaca sebuah cerita umur kita akan panjang dan akan mengurangi kelahiran bayi, dsbnya.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kita sebagai pembaca yang aktif, akan lebih menguasai situasi dan kondisi. Mengapa? Bila kita membaca sebuah cerita, baik itu Novel, Cerpen, Feature, Cerbung dan tulisan yang notabenenya berbentuk cerita, kita tentu akan memilih waktu, kapan, dimana. Apabila hal ini tidak dilaksanakan, kesempatan Anda dalam membaca sebuah cerita itu akan hilang. Mengapa saya mengatakan “membaca sebuah cerita itu tidak mudah”, karena kita sebagai pembaca, sejak kita mengenal tanda baca dan lancar membaca dan berbahasa, tidak ada salah satu orang atau pembimbing/guru yang mengomentari kita dalam membaca, khususnya membaca sebuah cerita.

Novela Ridwan

Kamis, 13 November 2014



Mengenang Tulisan Perdana.





Salam Semangat,...
mencoba untuk memberikan sedikit tulisan di blog ini. Sebagai penulis pemula, saya belajar melalui buku tentang menulis, dan ini adalah tulisan perdana saya dan kebetulan sudah dimuat disalah satu surat kabar di pekanbaru, beberapa tahun yang lalu.

tulisan ini saya susun berdasarkan informasi dari narasumber dan buku yang sudah diterbitkan.



Antonius Silalahi: Seorang Penyair Puisi Tunanetra


Minggu pagi, 26 Maret 2006 saya mendapat SMS dari teman saya yang isinya adalah “...Wan, nanti sore di Gereja St. Maria a Fatima misa ke-2 ada orang tunanetra jual puisi karyanya sendiri...”. Karena ada sesuatu hal yang penting bagi saya, sehingga saya tidak menghiraukan isi SMS itu. Minggu sorenya saya diajak oleh dua rekan saya pergi ke gereja untuk menemui orang tunanetra tersebut. Sesampainya kami di gereja ternyata orang yang kami cari tidak ada, lalu kami coba menghubungi melalui ponselnya dan ternyata dia sudah berada di Mes Taman Budaya. Kami sesegera mungkin menuju ke taman budaya. Setelah sampai saya diperkenalkan dengan orang tunanetra itu yang mempunyai nama panggilan akrab Abang Anton. Lalu, kami di sodori beberapa buah buku kumpulan puisinya.
Ketika saya melihat sekilas kulit luar dari buku (Dalam Matahari) kumpulan puisinya, perasaan saya biasa saja. Saya menganggap isinya sama dengan pengarang-pengarang puisi lainnya. Kemudian saya membuka halaman demi halaman sambil membaca judulnya saja. Entah mengapa mata saya tertuju pada sebuah judul yang tidak asing lagi saya dengar baik dalam nyanyian atau sinetron-sinetron Indonesia. Judulnya yaitu:

Sebatang Kara
Keras tangisku menggetarkan gunung
Menerobos jauh ke rahim bumi
Menggemparkan samudra dan rimba raya
Namun nuranimu tak jua bergetar
Untuk mengganti popokku
Menaruh dot dalam mulutku

Aku sendiri menganyam hari-hari
Dewasa dalam asuhan lara
Menjadi orang tak kenal ayah
Tak kenal ibu
Hanya sepenggal kisah kubaca
Di dinding-dinding selokan jalan raya
Menjadi teka-teki untukku
Aku anak siapa (Medan, 3 Juli 2004)

         Sampai dua kali saya membaca kata-kata yang terangkai dengan apiknya itu. Perasaan yang begitu memilukan hati, setelah membaca puisinya.
Sudah 4 hari Abang Anton berada di Pekanbaru, dalam rangka memenuhi undangan suatu pementasan di taman budaya. Ia diberikan kesempatan untuk membacakan beberapa puisinya. Pria yang lahir di Pematang Siantar, 21 Mei 1973 dan bernama Lengkap Silverius Antonius Harrison Silalahi ini dengan percaya diri menceritakan kisah-kisahnya kepada kami. Memang pengorbanannya begitu panjang. Semenjak usia 9 tahun, ia menderita penyakit demam tinggi, karena penyakit itu menyebabkannya jadi tunanetra. Kemudian ketika berumur 10 tahun ayahnya meninggal dunia menyusul ibunya tercinta yang sudah lama tiada. Berkat keuletan dan kesabarannya yang bang Anton jalani telah membuahkan hasil yang memuaskan, apalagi dengan mottonya yang ia punya “Netra hilang Hati Berkumandang”.
Dalam bukunya yang berjudul (Dalam matahari – kumpulan puisi Antonius Silalahi, 2005) ia berusaha menceritakan  sedikit beberapa cuplikan puisinya yang sangat berkesan kepada kami. Seperti:

Meledakkan Pesawat Diskriminasi
 
Sudahlah kecewa itu ijinkan pergi
Bersihkan ruang hati dari sampah-sampah
Kepedihan dan putus asa
Tutup biar tak kembali masuk
Oleh angin yang berhembusan tak pernah sepoi

Hentakkan tanpa henti pacul-paculmu
Keringat yang mengalir deras
Mengucur ke bumi
Akan tumbuh menjadi gunung-gunung menjulang tinggi
Dan pesawat-pesawat diskriminasi itu
Tak kuasa melampaui lalu meledak dan mati
                                          Medan, 18 Maret 2004


Menurutnya, adanya diskriminasi terhadap ketunanetraan itu dapat dihancurkan dengan meledak dan mati kalau ada usaha bekerja keras bukan berpangku tangan apalagi menjadi peminta-minta atau pengemis. Dengan kejadian-kejadian yang pernah dialaminya, ia berani membeberkan rangkaian kata-kata dalam puisinya yang berjudul:

Kepada Penadah Tangan
 
Mestinya tangan yang di tadahkan bukan ke langit
Sebab langit akan koyak
Bintang-bintang dan rembulan berjatuhan
Malam marah tanpa kemilau cahaya
Merambat tersandung-sandung

Mestinya tangan ditadahkan ke bumi
Sebab bumi menumbuhkan yang ditanam
Lewat irigasi keringat
Dan semua bahagia dalam pesta panennya
Bernyanyi dan menari dalam panggung satu hasrat

Medan, 1 September 2004

            Jam menunjukkan pukul 21.30 wib, masih separuh perjalanan dari ceritanya yang kami dengar. Di luar cuacanya dingin setelah hujan deras mengguyur kota Pekanbaru. Saya menanyakan lagi mengenai salah satu bukunya yang berjudul (BARA HATI – Antonius Silalahi – Kumpulan Puisi 1993-2003). Ada satu puisi yang nyata dalam kehidupan saya, yang berjudul Insiden Trotoar 5,5. “Kok itu judulnya” tanya saya lagi. Karena memang kejadiannya di Trotoar 5,5 itu.


            Insiden Trotoar 5,5
            Sepi kutunggu ditrotoar itu
            Temanku menuju pula sekarang
Tiba-tiba kau datang
Lalu menikamku dengan recehan itu
Aku terkapar seketika
Dan kau berlalu sambil tersenyum bangga

Aku terinjak-injak ditrotoar 5,5
Tak ada Ambulance yang membawaku ke rumah sakit
Penikamku tak ada yang mengejar dan menangkap
Hanya sunyi yang menjengukku dan berbisik
“Kawan, ini negeri orang-orang buta”
                                                            Medan, 15 Pebruari 2005

Melalui sepi yang ditunggu, namun sunyi yang menjenguk dan berbisik menandakan suatu ketidak ikhlasan dan kerealistikan diri. Namun perlu diperdulikan dengan panggilan hati yang masih punya penghargaan terhadap manusia berkekurangan, “Kawan, ini negeri orang-orang buta”. Jangan sepelekan atau meremehkan dan dibuang begitu saja. Suatu perjalanan yang begitu pedih bila dirasakan. Tapi, bagi bang Anton sendiri ini merupakan tantangan hidupnya. Apalagi semenjak di tolong oleh seorang Suster Jeanette, seorang biarawati berkebangsaan Belanda. Hingga bisa menjadi penyair sampai saat ini. Berikut cuplikan puisinya:

Karenamu Suster Jeanette
 
Adalah karena kuasa ilahi
Hatimu utuh tekadmu pasti
Jejakkan langkah ditapak bakti
Jadi biarawati

Ranjau-ranjau yang menderu karang
Pupus dalam kobaran ketulusanmu
Dinasti dukalara kasih oleh pengorbananmu

Oh...Suster Jeanette
Kau suluh di tapal batas harapan
Di pucuk sentosa kini aku bersinggasana
Mengeja bahagia menggenggam seribu pesona
Dunia berpaling lalu membelalakkan mata
Saksikan tunanetra jadi sarjana berkharisma
Kini semuanya tak lagi berbeda
Karenamu Suster Jeanette

Medan, 08 Maret 2003

Pada penutup cerita kami malam itu, kami merasakan suasana yang indah dan berkesan. Hujan deras yang telah berhenti, hanya meninggalkan genangan-genangan kenangan yang telah terekam dalam ingatan, menyegarkan kembali suasana hati. Hembusan angin malam itu, tak bosannya menggoyangkan pintu serasa menambah keceriaan. Sedikit kami menyinggung masalah rencananya untuk menikah. Ternyata pada bulan Juni ini, Abang Anton ada rencana untuk menikah dan ini merupakan kabar gembira bagi kami. Dengan kesabaran dan keteguhan hatinya bang Anton pelan-pelan meraih cita-cita dan harapan. Dengan cacadnya ini masih banyak  tersimpan bakat-bakat yang terpendam. Tapi, selain dari itu dia masih memiliki perasaan cinta. Seperti  yang terlihat pada sebuah puisinya yang berjudul:

Melangkahlah Menyeberang Kali Kecil Itu

Setangkai anyelir kutanam di mimpimu
Di antara rumpun pohon jati
Kupupuk dan kusiram setiap hari
Agar akar-akarnya gesit berkelip
Menerobos gerombolan akar-akar pohon jati
Lalu merambat  lembut hatimu
Dan ketika kau bangun
Kau tak lagi duduk di sofa keraguan itu
Apel keterpaksaan itu lagi mengundang seleramu
Bukalah jendela itu
Biar lapang terasa di dada
Dan semerbak anyelir dari taman kemurnian
Merasuk bebas menguntai hasrat yang tertunda

Ah, cantik
Tak perlu kau buka album penyesalan itu
Rumpun pohon jati kini telah meranggas
Dan akar-akar anyelir yang merambat di hatimu
Adalah lorong menuju istana nirmala
Cerita kita ketika senja di metromini

Mari cantik
Melangkahlah menyeberangi kali kecil itu
Songsong hari bertabur delima

Medan, 14 Februari 2003


Catatan: Bukunya yang sudah terbit ada 4 buah, rencananya dia akan membuat cerpen yang rencananya akan dimasukkan di salah satu surat kabar di Pekanbaru. Kemudian dia akan membuat sebuah Novel, mudah-mudahan apa yang direncanakannya berjalan dengan baik. Dan katanya lagi, pada bulan Mei ini ada rencana untuk mengunjungi Pekanbaru. Semoga.

( Novela Ridwan)