Selasa, 03 Juli 2012

Perempuan

Perempuan berjalan diatas pasir putih
melekat keinginan dalam langkah
menuju jalan berbelok dan lurus
membekas jejak dalam angan

Perempuan berjalan bersama angan
Menggendong beban menyambut asa
merangkul dan menggenggam damai
Perempuan tersenyum mengalahkan pedih

tanpa pelindung langkahmu berjalan
melintasi jejak lurus berseri
pasir tertiup angin, berserakan
pagi mendahului bayangan
mengabadikan kedamaian hati

Perempuan itu kuat
sekuat hati dan nafsu angkara
berduyun-duyun melangkah
memberi asa dan kehidupan

jalan melangkah menanti tujuan
jejak langkahnya ingin turut
dalam-sedalamnya rasa hati
menuju cepat keinginan jauh
Perempuan…

senyum ramah menyambut kehangatan
berjalan baik dan indah menapak
Perempuan…
lemah lembut warna wajah
ingin datang mendekat dan tanya
Perempuan…

dari satu, dua, tiga dan empat
huruf  ceria cinta dalam melangkah pasti
mendekat dan menyambut satu
angin kesejukan dan kedamaian
Perempuan…Damai bersama alam

Selasa, 26 Juni 2012

Monolog Asap dan Air



Asap 1...
Merah melawan merahnya hati
Menari-nari melambung keangkasa
Seribu banyak menangis panas
Bersesak berjejer di antara semak-semak
Jatuh bertumbangan pohon-pohon muda
Menetes berbusa melawan panas

Oh rembulan Siang menangis
Menahan pedih menutupi...
Asap putih kecoklatan membungkus alam
Terbang bebas melambung menyatu
Menikmati keangkuhan terbelenggu

Aku melukai mahkota mata tersuci
Sampai ke seberang lautan luas
Bebas, semua menghindar menutup kehidupan

Asap 2...
Berhembus angin ke Utara,
            aku ke utara.
Kadang ke Selatan,
            aku ke Selatan
Alang-alang muda menangis aku tertawa
Serentetan tumbuhan putri malu menguncup
Ketika ku melaluinya.
Ku dengar cicitan burung pipit,
yang enggan meninggalkan sarangnya
masih tergolek lemas sepasang anaknya.
Biarkan¾Salah siapa?

Air 1...

Titik¾Titik api membakar
berserakan kunang-kunang malam
di siang hari, membayang dipelupuk mata
setetes air mata mengering sebelum jatuh
tersapu angin membawa pilu

Air mengalir tak mampu
membendung amarah kobaran api
selembar kertas menutup air
merembes pelan api tak padam
air terdiam api tertawa, sedangkan
asap berlari tunggang¾langgang
mencari mangsa jauh

Air 2...
Kini, air bergerak
Setelah habis, mati, hitam
Tertutup abu pembakaran
Di atas api pemanggangan
Bau anyir menggelar sedap,
Setetes demi setetes air menyatu
Walau hati tak mau
Sebelum terbuang, sibuklah diri.


dokumen pribadi.

puisi


Sajak dalam Doa BersamaNya

Gadis kecil berkalung doa
Memohon pada-Nya tulus
Melihat cahaya bintang malam
Walau mendung mencoba tutup
Bersujud di antara duduknya
Menangis di antara diamnya
Tersenyum terbawa dalam angannya

Telah lama dipanggil... Ayahnya.
Tuhan adil, tapi tak adil baginya
Ketika rindu hanya berdoa
Walau ingin bertemu menahan pilu

Di sana Ayah mulai tidur
Saat awan hitam malam mendekat
Pelan-pelan membaringkannya damai
Lalu angin sebagai dongengnya
Menemui dalam kegelisahannya
Menyejukkan hatinya
Setetes tertumpah di bumi
Tanda salam darinya

Gadis kecil bermalu tangis
Duduk merenung anehnya cerita
Dibalik layar belum terpajang
Ditengah kejadian belum tersusun
Menjelang selesai dipanggilNya

Gadis kecil kini sendiri
Berteman Ibu menempuh jalan
Melanjut asa membalut rindu
Menghatur doa untuknya
selamanya

                        Pekanbaru, 25/12/05

 

dokumen pribadi.

tiga tahun bersama mereka. beberapa tidak ikut berfoto.







Kunjungan ke salah satu panti asuhan di pekanbaru.