Minggu, 28 Juni 2015

Mengergaji Waktu Senja


Aku selalu ada dalam sedihmu
Meraut waktu mengemas angan
Senantiasa mengalir kepembuangan
Pergi menjauh menggulung kenangan
Dalam benak hatimu menggebu

Aku bertanya pada alam terbuka
Walau hati yang tertutup kembali
Menyapu kerinduan di lantai kosong
Terbanglah debu dalam angan belantara

Nyiur belaian daun hijau
Di bawah rimbunan pohon Akasia
Mengulas balada senja menjelang pulang
Selangkah jauh tenggelamnya sinar matahari
Dalam serakan daun kering berlubang

Sisa-sisa bertaburan kotor ditinggalkan
Senantiasa jatuh ke alam mengulang kejadian.
                                                         (15/03/06)


Membungkus Senja

Aku selalu ada dalam sedihmu
Membicarakan hikayat bermantra
Lalu bercerita dalam senja

Gulungan kain yang tlah kau pesan
Dititipkan kepadaku oleh si pengantar
Penuh keharuan dan-tapi sedih (15/03/06)


Air Mata Senja


Duduk bersandar melihat bulan-redup
(kenangan, menggulung kain-merajut malam)
Menangis ---- habis kata (15/03/06)
KEBAHAGIAAN SEORANG IBU
  (Cacat, bukan penghalang baginya)

Sore itu, matahari mulai mengantuk letih
Menanti awan menutupi cepat
Lampu jalan enggan bicara
Dengan gagahnya menerangi jalan
Yang mulai sunyi di lewati orang
Lega sedikit mendinginkan panas
Bersiap-siap untuk pulang
(di manakah rumahnya)

Setelah melewati jalan-jalan
Penuh halangan dan rintangan
Menawarkan sejumlah harapan
Dalam melanjutkan hidup dan mimpi
Bersiap-siap untuk pulang
(di manakah rumahnya)

Sore itu, duduk bersandar seorang ibu
Di temani sebuah tongkat teman setianya
Setelah lelah berjalan kesana kemari
Raut wajahnya yang mulai keriput
Memancarkan kebahagiaan di masa tuanya
Sendiri dalam kejamnya sebuah kota
Di manakah buah hatinya, kebahagiaannya

Di tangan kirinya sebuah kaleng kecil lusuh
Di genggam erat, basah dengan keringat
Begitu berat…? Tanpa terasa malam menjemputnya
Dia tertidur di bawah sinar bulan purnama
Begitu bahagianya setiap melihatnya
Bagi yang iba kepadanya
Memberikan selimut dalam kedinginannya
Tanpa mengganggu dalam mimpinya
Menanti matahari pagi

Melawan kejamnya kota. 

Tangisan Anak Kecil


Tepi jalan ini
Tepi kehidupan ini
Mengarah jalan bebas
Tenggelam mencari alam
Sunyi dalam tepian jalan

Mengarah padaku
Apalah dayaku…                          
Luka yang pahit luluh       
Dalam keinginan semu

Mendekat datang dan pergi jauh
Menghubung di antara kesunyian
Tangisan seorang anak kecil, dalam gelapnya malam
Di sebalik tumpukan sampah
Menutupi diri dari pancaran sinar bulan
Enggan dilihat rembulan malam
Keinginan dalam kegelapan
Dimanakah rasa cerianya

Dinginnya angin malam
Semakin keras tangisnya
Langkah kaki yang melewatinya
Perasaan dan rasa kasih
Pergi dan menjauh mengikuti langkah semu
Anak kecil itu kalah…

Menjelang matahari terbit
Terbujur kaku tanpa bernyawa
Menemui yang kuasa
Hidup damai bersamanya
Tapi, siapa yang perduli

Tiada yang tahu kalau mati
Aroma anyir menyengat
Sebagai tanda…
Siapa yang perduli…
Matahari pun enggan bersinar menjelang siang
Seribu mata sekilas menatap
Siapa yang perduli...Engganku menjawab?

Atau siapa…? April 2004

Pelangi di atas kertas

                        Buat Pink, (hampir memerah)
Kupersembahkan beberapa coretan kecil
di atas lembaran kertas buram yang terbuang
aku bersihkan dengan kain lap
yang warna dasarnya Pink, tapi
berangsur-angsur memerah setelah
lentera-lentera pedas dan merah panas
terbungkus menutupi kepiluannya.

Biarlah semua itu terjadi, meskipun
kerinduan akan bebas semakin dekat
dekat-sedekat mata pena dan kertas
yang enggan mengganguk keletihan
Aku pindahkan bayanganku
kala sinar matahari menggodaku untuk berpindah
di ujung mata pena terpancar kilauan putih suci
Kuperhatikan sejenak lambaian
bunga kertas warna merah
yang hampir gugur di musim panas
Kuulas kembali kegigihannya
menghiasi taman rumahku
Sedikit banyak membumbui keindahan
atas keraguanku hanya pada sebuah kata.

Aku gelarkan gumpalan kertas
yang telah buram ini, menutupi
sepetak kecuranganku hanya
untuk membujuk rayu
bebanku tersirat hanya pada selembar kertas
yang takut akan aku cabuli dengan
mata pena yang tajam
garis-garis pembatas jarak tulisan berontak
enggan berpindah, berteriak kecil ingin cepat selesai.

Mengawali deretan pawai kecil jemariku
yang menggelegar kala desiran angin merayu
Biru, teruntai bak benang kusut bergerak
menghiasi gerombolan kata pujangga berarak
“Bila penyanyi menyanyi, aku menatap mata hati.
Bila habis putaran Film, aku berbalik menutup hati.
Bila bersua pujaan hati, aku mendekat membuka hati”.

                                                September Pink, 2005
Menanti Di Antara Dua Pilihan

Aturan antara liuk kehidupan
Kembali hikmat antara jauh
Di tengah barisan alang-alang kering
Di sengat sinar siang matahari
Di rasa aroma bakaran tanpa api
Mati atau hilang tanpa asap.

Perahu kayu kecil terbawa arus
Dari hembusan angin menuju laut
Terombang-ambing, bak rakitan membelah
menggulung mangsa dengan air liurnya
tersangkut di antara jaring-jaring serbuk putih
mati atau hilang tanpa rasa.

Berlari mengikuti lenturan lunglai kaki
Menjejaki sepertiga aspal yang membara
Bagaikan bayangan air di permukaan laut
dan tertumpah jelas di permukaan aspal hitam
terus berlari mengejar dan kejar bayangan
ketabahan antara hidup dan kelelahan

Pertama :   Sebagai hidup penuh bermakna
                  berkarya, berbunga nan elok bersemi
                  dipelupuk kelopak mahkota bestari
                  nan tak lepas dari singgahan nestapa
Kedua    :  Lautan lepas terkumpul satu di pelupuk mata
                  namun, mata hati buta ibarat selubang jarum
indah berkilau lalu hilang membalik asa
                  terbawa jeram menggulung curam
Pertama :   Menangisi keabstrakan khayalannya
                  dirudung impian mimpi tengah siang
Kedua    :  Menggiring waktu mengusir matahari
                  Melintasi awan dibawah panasnya
                  Terik-terik membara membayang
                  Menyibak hela demi hela nafas terengah
                  Menggunduli kelopak menjahit teduh
Pertama  :  Bayangan ke arah Timur
                  Angin mati kutu ke arah Utara
                  Di sana daun-daun lebar menari berkerumunan...
                  Setelah lewat angin puting beliung
                  Bayangan lebih cepat dariku
Kedua     :  Untaian kalimat manis masih terseret
                  Tertatih-tatih membebani langkahku
                  Tidur ayam di siang nyata, akan
                  mengajak menuntun matahari...



di luar mulai gelap
matahari mulai tertutup awan tebal
setelah minta ijin pada bulan
sejenak mengintip melihat tempat
masih tertutup sedikit, malu-malu

Biar…semua merasakan
Biar…kumbang, kupu-kupu melihat,
           menjelang pulang
Biar…agar membawa cerita padanya

Jendela-jendela tua, lantai tak tersentuh
Pintu-pintu goyang menyapamu temu
lama datangmu, sejak nantiku
Kursi-kursi tua, meja bundar di tengahnya
masih membekas jelas di balik debu
jejak-jejak keceriaan

Benang Sutra menghiasi sudut dinding papan
di bawa laba-laba dalam pergimu
sinar Lampu mulai malas terangnya
hampir hilang dimakan waktu

sinar bulan tanpa malu-malu
menerobos masuk lewat lubang kecil
menembus dinding papan yang rapuh

Biar…Adamu melekat di kain penutup jendela
Biar…Tetap terpampang menahan beban
Biar…Membekas sebagai tanda ada

Kembali
Jam dinding yang berkabut
Masih terlihat jelas penuh debu
Tapi, detak jantungku bersamamu

Semua, bersama debu-debu penuh impian.
Menangis di jalanan kota
       (siapa yang tahu)

Kering sudah air mata
Jatuh membasahi jalanan ramai
Tak satu pun yang tahu di antara yang tahu
Seolah biasa terjadi mengiris pilu

Siapa yang tahu
Terlalu banyak air mata berlinang
Mengering menguap tanpa di seka
Lantunan melodi sumbang suara knalpot
Membayang panas berkaca bening bising
Berdiri, berjalan, berlari, menghindar
Serasa biasa melawan sakit terhiris tutup
Teriakan-teriakan bunyi klakson marah
Ingin keluar dari perhelatan ramai padat
Aroma asap sesak bebas masuk keluar
Seakan-akan penyaring lelah ingin pulang

Siapa yang tahu
Berjalan dengan tujuan tapi diam
Mencoba menutup menetes air mata
Membendung air mata menangis dengan tawa
Di hadapan khalayak ramai liar
Namun, siapa yang tahu
Semua pergi dengan ingin sendiri kuat
Pohon-pohon masih tetap berdiri bertahan
Mencoba membuat teduh sebentar
Mengejar waktu saling mendahului

Siapa yang tahu
Hanya dirimu sendiri yang tahu
Saat mengeringnya air mata pilu
Tersapu debu-debu tertutup satu
Nyata tanpa polesan kuas rias
Jelas...

Siapa yang tahu... (Pekanbaru,...Juli 2005)

Kamis, 28 Mei 2015


satu persatu mereka akan membuat suatu gebrakan awal dan hasil yang baik nantinya.